Sejarah Las

Perkembangan proses pengelasan mulai dikenal pada awal abad ke 20. Sebagai sumber panas digunakan api yang berasal dari pembakaran gas Acetylena yang kemudian dikenal sebagai las karbit. Waktu itu sudah dikembangkan las listrik namun masih langka.

Pembekalan Dunia Industri

Acara ini membahas mengenai bagaimana lulusan SMK menghadapi dunia industri, dengan beberapa tantangan-tangangan yang harus dihadapi, mulai dari persaingan dari para SMK lainnya, persaingan kerja dengan dunia perguruan tinggi serta persaingan yang sudah berlangsung pada awal tahun depan (tahun 2016) yaitu MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)..

Program Pendidikan Vokasi Industri

Sebagai wujud pelaksanaan tugas tersebut, Kemenperin telah menyusun program pembinaan dan pengembangan yang link and match antara SMK dan industri, dengan sasaran sampai tahun 2019 sebanyak 1.775 SMK meliputi 845.000 siswa untuk dikerjasamakan kepada 355 perusahaan industri

Lakukan Hal Ini Sebelum Ujian Nasional, Pasti Bakal Sukses!!!

Apakah kamu juga sudah siap menghadapi Ujian Nasional yang sebentar lagi akan berlangsung? Jika pada Ujian Nasional 2019 lalu banyak sekali siswa yang mengeluh merasa kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal Ujian Nasional, terutama matematika. Mereka merasa soal Ujian Nasional yang mereka hadapi tidak sama dengan materi yang diajarkan di sekolah

Sunday, September 20, 2020

Piercing (Forging) Dan Aplikasinya Pada Uji Kekerasan Material.

Piercing (Forging)

Piercing adalah proses mengindentasi permukaan benda kerja dengan menggunakan punch dalam rangka untuk membuat sebuah rongga pada benda kerja (mengindentasi: membuat lekukan atau cekungan). Pada proses ini benda kerja bisa ditahan (dibatasi) di dalam sebuah wadah (cetakan) atau bisa juga tidak ditahan. Perubahan bentuk yang terjadi pada benda kerja tergantung pada berapa banyak tahanan atau batasan diberikan.

Piercing (Forging) Dan Aplikasinya  Pada Uji Kekerasan Material.

Gaya merupakan salah satu faktor penting dalam piercing. Beberapa hal yang memengaruhi gaya piercing antara lain: luas penampang punch, bentuk dari ujung punch, kekuatan material, dan besarnya gesekan pada permukaan luncur. Besar tekanan pada piercing bisa berkisar antara tiga hingga lima kali kekuatan material. Besar tekanan tersebut rata-rata mendekati tingkat tegangan yang diperlukan untuk membuat sebuah lekukan pada uji kekerasan material.


Aplikasi Piercing

Salah satu aplikasi piercing dapat dijumpai pada pembuatan lubang segienam di kepala baut tanam. Selain itu, piercing juga dilakukan untuk membuat lubang pada produk-produk tempa.


Saturday, September 19, 2020

Cara Tepat Untuk Mencegah Kebakaran dan Ledakan pada Proses Pengelasan

Pengelasan merupakan proses penyambungan logam. Penyambungan dilakukan dengan mencairkan logam induk dan bahan tambah. Hal tersebut menghasilkan logam cair dan percikan logam panas yang bisa menyebabkan kebakaran.

Cara Tepat Untuk Mencegah Kebakaran dan Ledakan pada Proses Pengelasan

Berikut beberapa hal yang harus dilaksanakan untuk mencegah kebakaran dan ledakan:

  1. Mengembangkan prosedur kerja yang tepat.
  2. Memakai alat pelindung keselamatan.
  3. Jauhkan benda yang mudah terbakar, paling tidak sejauh 11 meter. Jika tempat tidak memungkinkan, lindungi benda yang mudah terbakar dengan penutup tahan api.
  4. Jangan mengelas logam yang memiliki lapisan yang mudah terbakar.
  5. Periksa lokasi kerja dari api atau asap, sebelum meninggalkan lokasi tersebut.
  6. Pastikan logam atau slag yang masih panas tidak menyentuh benda yang mudah terbakar.
  7. Selalu sediakan alat pemadam api.
  8. Pastikan peralatan elektrik terpasang dengan benar.
  9. Jangan mengelas jika udara sekitar mengandung gas, uap, atau debu yang mudah terbakar.
  10. Jangan mengelas logam yang terkena cairan atau material lain yang mudah terbakar.
  11. Jangan mengelas pipa atau tabung yang di dalamnya masih mengandung zat yang mudah terbakar.
  12. Pastikan lokasi pengelasan memiliki sirkulasi udara yang cukup supaya gas yang mudah terbakar bisa keluar.
Itulah hal-hal yang perlu diperhatikan, semoga bermanfaat!!!

Klasifikasi Pengelasan " Fusion Welding Dan Solid State Welding"

Klasifikasi Pengelasan

Ada banyak sekali jenis pengelasan. Menurut katalog American Welding Society (AWS), ada sekitar 50 jenis pengelasan yang berbeda. Pengelasan dapat diklasifikasikan sebagai berikut.

Klasifikasi Pengelasan " Fusion Welding Dan Solid State Welding"

Fusion Welding

Proses fusion welding menggunakan panas untuk mencairkan benda kerja. Pada beberapa fusion welding, bahan tambah (filler) diberikan pada cairan las untuk memfasilitasi proses pengelasan dan memberikan kekuatan pada sambungan las. Di sisi lain, ada fusion welding yang tidak menggunakan bahan tambah. Fusion welding tanpa bahan tambah tersebut dikenal sebagai las autogen (autogenous weld). Fusion welding dibagi menjadi lima kelompok.

Arc welding merupakan kelompok pengelasan di mana panas pada benda kerja disebabkan oleh sebuah energi listrik atau arc. Arc terbentuk di antara elektroda dan benda kerja. Berdasarkan elektrodanya, arc welding dibagi menjadi dua yaitu elektroda yang dikonsumsi dan elektroda yang tidak dikonsumsi. Pengelasan dengan elektroda yang dikonsumsi antara lain: shielded metal arc welding (SMAW), gas metal arc welding (GMAW), flux-cored arc welding (FCAW), electrogas welding (EGW), dan submerged arc welding (SAW). Di sisi lain, pengelasan dengan elektroda yang tidak dikonsumsi antara lain: gas tungsten arc welding (GTAW), plasma arc welding (PAW), carbon arc welding (CAW), dan stud welding (SW).

Resistance welding merupakan kelompok pengelasan yang mengalami penggabungan dengan memanfaatkan panas yang berasal dari hambatan listrik. Arus listrik dialirkan pada kedua benda kerja yang saling menempel. Proses resistance welding terdiri dari beberapa macam, yaitu: resistance spot welding (RSW), resistance seam welding (RSEW), resistance projection welding (RPW), flash welding (FW), upset welding (UW), percussion welding (PEW), dan high-frequency resistance welding (HFRW).

Oxyfuel gas welding merupakan kelompok pengelasan yang menggunakan bahan bakar gas untuk membuat nyala api. Nyala api tersebut digunakan untuk mencairkan benda kerja dan bahan tambah. Oxyfuel gas welding terdiri dari dua macam, yaitu: oxyacetylene welding (OAW) dan pressure gas welding (PGW).

Beam welding merupakan kelompok pengelasan yang menggunakan sinar untuk mencairkan benda kerja. Beam welding terdiri dari dua jenis, yaitu: electron beam welding (EBW) dan laser beam welding (LBW).

Other fusion welding processes merupakan kelompok pengelasan yang memiliki teknologi yang unik (lain dengan empat kelompok di atas). Kelompok ini terdiri dari dua jenis pengelasan, yaitu: electroslag welding (ESW) dan thermit welding (TW).


Solid State Welding

Solid state welding merupakan proses pengelasan di mana penggabungan diperoleh dari penerapan tekanan pada benda kerja atau kombinasi antara penerapan panas dan tekanan pada benda kerja. Jika panas digunakan untuk mengelas, suhu yang digunakan di bawah suhu cair logam yang akan dilas. Solid state welding tidak menggunakan bahan tambah. Pengelasan ini dibagi dalam beberapa jenis:

Diffusion welding (DFW) merupakan proses pengelasan di mana dua permukaan benda kerja saling menempel dengan tekanan tertentu pada suhu yang tinggi sehingga terjadi penggabungan.

Friction welding (FRW) merupakan proses pengelasan di mana penggabungan terjadi karena panas yang diakibatkan oleh gesekan dua permukaan benda kerja.

Friction stir welding (FSW) merupakan pengelasan menggunakan alat yang berputar (rotating tool), untuk memakan dan menghasilkan panas pada garis sambungan antara dua benda kerja sehingga membentuk sambungan las.

Ultrasonic welding (USW) merupakan proses pengelasan di mana kedua benda kerja saling menekan satu sama lain dengan tekanan yang ringan. Permukaan kedua benda kerja yang saling bertemu selanjutnya digerakkan bolak-balik sejajar dengan permukaan kontak kedua benda kerja. Gerakan bolak-balik tersebut menggunakan frekuensi ultrasonic. Kombinasi gaya normal dan getaran (gerakan bolak-balik) tersebut menghasilkan tegangan geser yang melepas lapisan tipis pada kedua permukaan benda kerja. Pelepasan tersebut menghasilkan ikatan atomic pada permukaan kedua benda kerja.

Forge welding merupakan proses pengelasan di mana dua benda kerja yang akan disambung, dipanaskan sampai suhu pengerjaan panas dan ditempa menjadi satu dengan palu.

Cold welding (CW) merupakan proses pengelasan dengan menerapkan tekanan yang tinggi antara dua permukaan benda kerja pada suhu ruang. Permukaan yang akan disambung menggunakan cold welding harus benar-benar bersih.

Roll welding (ROW) merupakan proses pengelasan di mana roll digunakan untuk menekan benda kerja supaya terjadi penggabungan. Pengelasan ini dapat menggunakan sumber panas dari luar maupun tidak.

Hot pressure welding (HPW) merupakan proses pengelasan di mana penggabungan terjadi karena penerapan panas dan tekanan. Pengelasan ini merupakan variasi dari forge welding.

Explosion welding (EXW) merupakan proses pengelasan di mana penggabungan dua permukaan benda kerja diakibatkan oleh energi dari ledakan bahan peledak.


Cara Menyimpan dan Mengamankan Tabung Gas Acetylene Yang Tepat!!!

Gas acetylene merupakan bahan bakar pada las oxyacetylene. Gas tersebut biasanya dimasukkan pada sebuah tabung berwarna merah. Karena mudah terbakar, penyimpanan dan pengamanan tabung acetylene harus diperhatikan. 

Cara Menyimpan dan Mengamankan Tabung Gas Acetylene Yang Tepat

Berikut beberapa cara menyimpan dan mengamankan tabung gas acetylene:

(1) Lindungi tabung dari sinar dan panas matahari langsung.

(2) Simpan tabung di tempat yang sejuk dan kering.

(3) Ikat tabung supaya tidak jatuh.

(4) Jauhkan benda-benda lain yang bisa jatuh menimpa tabung.

(5) Buka/lepas regulatornya bila sudah tidak digunakan, kosong, atau ingin dipindahkan.

(6) Jangan mencabut, menukar, atau merubah tanda-tanda yang tertera pada tabung.

(7) Posisikan tabung gas supaya selalu tegak, baik ketika masih berisi maupun sudah kosong.

(8) Sterilkan lokasi penyimpanan tabung dari benda-benda bergerak atau mesin.

Friday, September 18, 2020

Alat Perlindungan Diri (APD) las SMAW

Alat Perlindungan Diri adalah alat-alat yang mampu memberikan perlindungan terhadap bahaya-bahaya kecelakaan. Atau bisa juga disebut alat kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan risiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di sekelilingnya.
Alat Perlindungan Diri harus mampu melindungi pemakainya dari bahaya-bahaya kecelakaan yang mungkin ditimbulkan, oleh karena itu, APD dipilih secara hatihati agar dapat memenuhi beberapa ketentuan yang diperlukan.

Menurut ketentuan Balai Hiperkes, syarat-syarat Alat Perlindungan Diri adalah:
1. APD harus dapat memberikan perlindungan yang kuat terhadap bahaya yang spesifik atau bahaya yang dihadapi oleh tenaga kerja.
2. Berat alat hendaknya seringan mungkin dan alat tersebut tidak menyebabkan rasa ketidaknyamanan yang berlebihan.
3. Alat harus dapat dipakai secara fleksibel.
4. Bentuknya harus cukup menarik.
5. Alat pelindung tahan untuk pemakaian yang lama.
6. Alat tidak menimbulkan bahaya-bahaya tambahan bagi pemakainya yang dikarenakan bentuk dan bahayanya yang tidak tepat atau karena salah dalam menggunakannya.
7. Alat pelindung harus memenuhi standar yang telah ada.
8. Alat tersebut tidak membatasi gerakan dan persepsi sensoris pemakainya.
9. Suku cadangnya harus mudah didapat guna mempermudah pemeliharaannya.

Alat Perlindungan Diri dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. APD bagian kepala meliputi:
x Alat Pelindung Kepala Bagian Atas: topi pelindung/pengaman (safety helmet).
Alat Pelindung Kepala Bagian Atas
x Alat Pelindung Muka dan Mata: safety glasses, face shields, goggles, topeng dan helm las.
Alat Pelindung Muka dan Mata
x Alat Pelindung Telinga: tutup telinga (ear muff), sumbat telinga (ear plugs)
Alat Perlindungan Diri (APD) las SMAW
x Alat Pelindung Pernafasan: masker, respirator.
Alat Perlindungan Diri (APD) las SMAW

2. APD bagian badan meliputi:
x Alat Pelindung Seluruh Badan: jas laboratorium.
Alat Perlindungan Diri (APD) las SMAW
x Alat Pelindung Badan Bagian Muka: apron.
Alat Perlindungan Diri (APD) las SMAW

3. APD bagian anggota badan meliputi:
x Alat Pelindung Tangan: sarung tangan (safety gloves).
Alat Perlindungan Diri (APD) las SMAW
x Alat Pelindung Kaki: safety shoes.
Alat Perlindungan Diri (APD) las SMAW

Kekurangan dan kelebihan Alat Perlindungan Diri.
1. Kekurangan Alat Perlindungan Diri meliputi:
o Kemampuan perlindungan yang tak sempurna, karena memakai alat pelindung diri yang kurang tepat.
o Fungsi dari Alat Pelindung Diri ini hanya untuk mengurangi akibat dari kondisi yang berpotensi menimbulkan bahaya.
o Tidak menjamin pemakainya bebas kecelakaan.
o Cara pemakaian Alat Pelindung Diri yang salah.
o Alat Pelindung Diri tak memenuhi persyaratan standar.
o Alat Pelindung Diri yang sangat sensitif terhadap perubahan tertentu.
o Alat Pelindung Diri yang mempunyai masa kerja tertentu seperti kanister, filter, dan penyerap (cartridge).
o Alat Pelindung Diri dapat menularkan penyakit bila dipakai berganti-ganti.

2. Kelebihan Alat Perlindungan Diri meliputi:
o Mengurangi resiko akibat kecelakaan.
o Melindungi seluruh/sebagian tubuh dari kecelakaan.
o Sebagai usaha terakhir apabila sistem pengendalian teknik dan administrasi tidak berfungsi dengan baik.
o Memberikan perlindungan bagi tenaga kerja di tempat kerja.

Cara memilih dan merawat Alat Perlindungan Diri.
1. Cara memilih Alat Perlindungan Diri:
o Sesuai dengan jenis pekerjaan dan dalam jumlah yang memadai.
o Alat Pelindung Diri yang sesuai standar serta sesuai dengan jenis pekerjaannya harus selalu digunakan selama mengerjakan tugas tersebut atau selama berada di areal pekerjaan tersebut dilaksanakan.
o Alat Pelindung Diri tidak dibutuhkan apabila sedang berada dalam kantor, ruang istirahat, atau tempat-tempat yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya.
o Melalui pengamatan operasi, proses, dan jenis material yang dipakai.

2. Cara merawat Alat Perlindungan Diri:
o Meletakkan Alat Pelindung Diri pada tempatnya setelah selesai digunakan.
o Melakukan pembersihan secara berkala.
o Memeriksa Alat Pelindung Diri sebelum dipakai untuk mengetahui adanya kerusakan atau tidak layak pakai.
o Memastikan Alat Pelindung Diri yang digunakan aman untuk keselamatan, jika tidak sesuai maka perlu diganti dengan yang baru.
o Dijaga keadaannya dengan pemeriksaan rutin yang menyangkut cara penyimpanan, kebersihan, serta kondisinya.
o Apabila dalam pemeriksaan tersebut ditemukan alat kerja yang kualitasnya tidak sesuai persyaratan, maka alat tersebut ditarik serta tidak dibenarkan untuk dipergunakan.

Fungsi dari beberapa Alat Perlindungan Diri.
ƒ Alat Pelindung Kepala: Topi Pelindung/Pengaman (Safety Helmet), melindungi kepala dari benda keras, pukulan, dan benturan.
ƒ Alat Pelindung Muka dan Mata melindungi dari:
1. Lemparan benda-benda kecil.
2. Lemparan benda-benda panas
3. Pengaruh cahaya
ƒ Alat Pelindung Pernafasan melindungi dari:
1. Pencemaran oleh partikel (debu, kabut, asap, dan uap logam).
2. Pencemaran oleh gas atau uap.
ƒ Alat Pelindung Kaki:
1. Untuk mencegah tusukan.
2. Untuk mencegah tergelincir.
3. Tahan terhadap bahaya listrik.
ƒ Alat Pelindung Badan digunakan untuk melindungi tubuh dari benda berbahaya, misal api, asap, bakteri, zat-zat kimia, cahaya, dan sebagainya.
ƒ Tutup telinga (ear plugs) untuk bekerja di tempat dengan kebisingan melebihi 85 dB.

Rangkuman
1. Alat Perlindungan Diri harus mampu melindungi pemakainya dari bahayabahaya kecelakaan yang mungkin ditimbulkan.
2. Alat Perlindungan Diri dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu: APD bagian kepala,
APD bagian badan, dan APD bagian anggota badan.
3. Alat Perlindungan Diri mempunyai kekurangan dan kelebihan.
4. Alat Perlindungan Diri harus dirawat sebaik mungkin.

Tes Formatif
1. Apa yang dimaksud dengan Alat Perlindungan Diri (APD)?
2. Sebutkan syarat-syarat Alat Perlindungan Diri!
3. Sebutkan Alat Perlindungan Diri bagian kepala!
4. Sebutkan Alat Perlindungan Diri bagian badan!
5. Sebutkan Alat Perlindungan Diri bagian anggota badan!
6. Jelaskan cara merawat Alat Perlindungan Diri!
7. Sebutkan fungsi alat pelindung muka dan mata!
8. Sebutkan fungsi alat pelindung kaki!

Thursday, September 17, 2020

Bahaya Busur Las, Asap / Gas dan Pencegahannya Las SMAW

Perlindungan terhadap pencemaran udara adalah dengan cara membuat sirkulasi udara segar yang cukup pada tempat kerja.
Dianjurkan pula untuk memakai masker pelindung pernafasan yang memenuhi syarat antara lain :
x Mempunyai daya saring yang tinggi.
x Sesuai dengan bentuk muka.
x Tidak mengganggu pernafasan.
x Tidak mengganggu pekerjaan.
x Kuat, ringan dan mudah dirawat.
pencemaran udara Las SMAW

Sifat fisik dan akibat debu dan asap terhadap paru-paru
Debu dan asap las besarnya berkisar antara 0,2 um sampai dengan 3 um, jenis debu ialah eternit dan hidrogen rendah. Butir debu atau asap dengan ukuran 0,5 um dapat terhisap, tetapi sebagian akan tersaring oleh bulu hidung dan bulu pipa pernapasan, sedang yang lebih halus akan terbawa ke dalam dan ke luar kembali.
Debu atau asap yang tertinggal dan melekat pada kantong udara di paru-paru akan menimbulkan penyakit, seperti sesak napas dan lain sebagainya. Karena itu debu dan asap las perlu mendapat perhatian khusus.

Pencegahan kecelakaan karena debu dan asap las :
1. Peredaran udara atau ventilasi harus benar-benar diatur dan diupayakan, di mana setiap kamar las dilengkapi dengan pipa pengisap debu dan asap yang penempatannya jangan melebihi tinggi rata-rata / posisi wajah ( hidung ) operator las yang bersangkutan.
2. Menggunakan kedok / helm las secara benar, yakni pada saat pengelasan berlangsung harus menutupi sampai di bawah wajah (dagu), sehingga mengurangi asap / debu ringan melewati wajah.
3. Menggunakan baju las (Apron) terbuat kulit atau asbes.
4. Menggunakan alat pernafasan pelindung debu, jika ruangannya tidak ada sirkulasi udara yang memadai ( sama sekali tidak ada udara )
Penempatan Alat Pengisap Asap Las / Debu

Rangkuman
1. Perlindungan terhadap pencemaran udara adalah dengan cara membuat sirkulasi udara segar yang cukup pada tempat kerja.
2. Dianjurkan pula untuk memakai masker pelindung pernafasan.
3. Debu atau asap yang tertinggal dan melekat pada kantong udara di paruparu akan menimbulkan penyakit, seperti sesak napas dan lain sebagainya.

Tes Formatif
1. Sebutkan macam-macam pencemaran udara yang dihasilkan oleh proses las!
2. Jelaskan syarat-syarat yang harus dipunyai oleh masker sebagai pelindung pernafasan!
3. Berapa besar debu dan asap las yang dihasilkan oleh pengelasan SMAW?
4. Apa jenis debu dan asap las yang dihasilkan oleh pengelasan SMAW?
5. Jelaskan pencegahan kecelakaan yang disebabkan oleh debu dan asap las!

Bahaya Busur Las dan Pencegahannya Las SMAW

Dari busur las terpancar cahaya yang tampak dan cahaya tak tampak, yang membahayakan juru las.
Dari panjang gelombangnya, cahaya dibedakan sebagai berikut:
busur las terpancar cahaya yang tampak

Cahaya infra merah (cahaya panas):
Sinar infra merah berasal dari busur listrik. Adanya sinar infra merah tersebut tidak segera terasa oleh mata, karena itu sinar ini lebih berbahaya, sebab tidak diketahui dan tidak terlihat.
Akibat dari sinar infra merah terhadap mata sama dengan pengaruh panas, yaitu akan terjadi pembengkakan pada kelopak mata, terjadinya penyakit kornea dan kerabunan.
Jadi jelas akibat sinar infra merah jauh lebih berbahaya dari pada cahaya tampak. Sinar infra merah selain berbahaya pada mata juga dapat menyebabkan terbakar pada kulit berulang-ulang (mula-mula merah kemudian memar dan selanjutnya terkelupas yang sangat ringan).
Cahaya tak nampak membakar jaringan kulit mata dan mengakibatkan kekaburan (rabun) mata yang berkepanjangan.

Cahaya tampak:
Benda kerja dan bahan tambah yang mencair pada las busur listrik manual mengeluarkan cahaya tampak. Semua cahaya tampak yang masuk ke mata akan diteruskan oleh lensa dan kornea mata ke retina mata. Bila cahaya ini terlalu kuat maka mata akan segera menjadi lelah dan kalau terlalu lama
mungkin menjadi sakit. Rasa lelah dan sakit pada mata sifatnya hanya sementara. Cahaya nampak yang terang dapat mengganggu mekanisasi pupil mata sehingga membutakan mata atau mengurangi daya lihat mata.

Cahaya ultra violet :
Sinar ultra violet sebenarnya adalah pancaran yang mudah terserap, tetapi sinar ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap reaksi kimia yang terjadi didalam tubuh.
Bila sinar ultra violet yang terserap oleh lensa melebihi jumlah tertentu, maka pada mata terasa seakan-akan ada benda asing didalamnya dalam waktu antara 6 sampai 12 jam, kemudian mata akan menjadi sakit selama 6 sampai 24 jam. Pada umumnya rasa sakit ini akan hilang setelah 48 jam.
Bersifat bagaikan kilatan petir, dapat mengakibatkan pembengkakan pada selaput mata dan kelopak mata, mata merah dan pedih. Disamping itu dapat membakar kulit yang tak terlindungi, mirip seperti kena sinar matahari.
Terhadap bahaya tersebut, yang paling utama harus kita lindungi adalah mata, yaitu dengan kaca filter yang sesuai atau menurut normalisasi yang ditentukan seperti contoh dibawah :
kaca filter / pelindung

Syarat – syarat kaca filter / pelindung:
x Harus mempunyai daya penerus yang tepat terhadap cahaya tampak.
x Harus mampu menahan cahaya dan sinar yang berbahaya.
x Harus mempunyai sifat – sifat yang tidak melelahkan mata.
x Harus tahan lama dan mempunyai sifat tidak mudah berubah.
x Harus memberikan rasa aman terhdap pemakai.

Pencegahan Kecelakaan karena Sinar Las :
ƒ Memakai pelindung mata dan muka ketika mengelas, yaitu kedok atau helm las.
ƒ Memakai peralatan keselamatan dan kesehatan kerja (pakaian pelindung) pakaian kerja , apron / jaket las, sarung tangan, sepatu keselamatan kerja.
ƒ Buatlah batas atau pelindung daerah pengelasan agar orang lain tidak terganggu (menggunakan kamar las yang tertutup, menggunakan tabir penghalang).

Kedok las dan helm las dilengkapi dengan kaca penyaring (filter) untuk menghilangkan dan menyaring sinar infra merah dan ultra violet. Filter dilapisi oleh kaca bening atau kaca plastik yang ditempatkan disebelah luar dan dalam, fungsinya untuk melindungi filter dari percikan-percikan las.
Kedok las dan helm las
Adapun ukuran (tingkat kegelapan) kaca penyaring tersebut berbanding lurus dengan besarnya amper pengelasan.
Berikut ini ketentuan umum perbandingan antara ukuran penyaring dan besar amper pengelasan pada proses las busur manual:
perbandingan antara ukuran penyaring dan besar amper

Rangkuman
1. Dari busur las terpancar cahaya yang tampak dan cahaya tak tampak.
2. Perlindungan terhadap cahaya busur las adalah dengan menggunakan pelindung mata dan muka ketika mengelas, yaitu topeng atau helm las, selain itu juga menggunakan alat pelindung diri seperti pakaian kerja, apron atau jaket las, sarung tangan, dan sepatu keselamatan kerja.

Tes Formatif
1. Jelaskan macam-macam cahaya dan dampak yang dihasilkan oleh busur las!
2. Mengapa cahaya tak tampak jauh lebih berbahaya daripada cahaya tampak?
3. Jelaskan penunjukkan masing-masing angka dan huruf pada normalisasi kaca filter 12 A 1 DIN!
4. Jelaskan syarat-syarat yang harus dipunyai oleh kaca pelindung (filter)!
5. Mengapa kaca penyaring (filter) harus dilapisi oleh kaca bening yang ditempatkan di sebelah luar dan dalam?

Wednesday, September 16, 2020

Tehnik Mengatasi Perubahan Bentuk Setelah Pengelasan Las SMAW

Untuk memperbaiki perubahan bentuk akibat pengelasan setelah dilakukan sangat sulit sekali dan kadang -kadang tidak mungkin.
Adalah hal yang sangat penting melakukan langkah menghindari perubahan bentuk sebelum dan selama pengelasan.
Sungguhpun demikian untuk memperbaiki perubahan bentuk akibat pengelasan dapat dilakukan dengan 2 cara berikut:
x Meluruskan dengan api
x Pemukulan logam waktu panas

a. Meluruskan dengan Api
 Meluruskan dengan Api
Gambar berikut ini menunjukan batang baja mengalami kebengkokan akibat pengelasan pada salah satu permukaannya. Konstruksi dari hasil pengelasan membengkokkan baja ke arah pengelasan. Kalau sisi yang berlawanan dari yang dilas dipanaskan dan didinginkan maka sisi tersebut akan menyusut, sehingga benda akan lurus kembali.

b. Pemukulan Logam Waktu Panas
Metode ini digunakan untuk menarik atau meregang hasil pengelasan dan bagian logam yang berdekatan dengan tempat pengelasan dengan cara memukul-mukulnya selagi masih panas. Peregangan ini akan mempengaruhi hasil pengelasan menjadi mengerut namun membantu
menghilangkan konstraksi. Perlu diperhatikan bahwa perlakuan yang berlebihan akan mengakibatkan bahan menjadi keras atau retak.

Rangkuman:
1. Langkah untuk mengontrol distorsi meliputi:
x Sebelum pengelasan
x Sewaktu pengelasan
x Sesudah pengelasan

2. Teknik mengontrol distorsi sebelum pengelasan meliputi:
x Perencanaan yang baik
x Pengelasan catat
x Alat bantu (Jig & Fixture)
x Pengaturan letak bahan (Pre-setting)

3. Teknik menghindari distorsi sewaktu pengelasan meliputi:
x Pengelasan selang-seling
x Pengelasan seimbang
x Pendingin buatan

4. Teknik mengatasi distorsi setelah pengelasan meliputi:
x Meluruskan dengan api
x Pemukulan logam waktu panas

Tes Formatif
1. Mengapa dengan perencanaan yang baik dapat mencegah terjadinya distorsi?
2. Apa yang dimaksud dengan las catat?
3. Jelaskan metode pencegahan distorsi dengan cara pendingin buatan!
4. Mengapa sangat penting melakukan langkah untuk menghindari distorsi adalah pada saat sebelum dan selama pengelasan?
5. Mengapa pada saat mengatasi distorsi, perlakuan yang diberikan tidak boleh berlebihan?

Tehnik Menghindari Distorsi Sewaktu Pengelasan Las SMAW

Tehnik Menghindari Distorsi Sewaktu Pengelasan
a. Pengelasan selang seling.
 Pengelasan selang seling Las SMAW
Apabila pengelasan secara terus menerus dari salah satu ujung ke ujung yang lain maka konstraksi akan terus bertambah selama proses pengelasan dan inilah salah satu penyebab perubahan bentuk. Ini dapat diatasi dengan tehnik pengelasan secara selang-seling dengan arah pengelasan yang berlawanan.

b. Pengelasan Seimbang
Pengelasan seimbang ini adalah suatu proses pengelasan untuk menyeimbangkan panas ke bidang pengelasan. Metode ini sering digunakan untuk memperbaiki kebulatan atau kelurusan poros dan setiap jalur pengelasan dilakukan berseberangan.
Ini bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan kontraksi dan mengurangi perubahan bentuk.
Urutan pengelasan perhatikan gambar berikut:
  Pengelasan Seimbang 1
Prinsip yang sama juga dapat digunakan pada pengelasan kampuh V atau U ganda. Pengelasan dilakukan dengan sisi atau permukaan yang berlawanan. Konstraksi akan terjadi sama pada kedua belah permukaan.
Untuk langkah pengelasan dapat diperhatikan gambar berikut.
 Pengelasan seimbang

c. Pendingin Buatan
 Pendingin Buatan
Logam pendingin ditempelkan pada logam yang dilas supaya panas pengelasan dipindahkan ke logam pendingin, logam pendingin biasanya dari tembaga atau perunggu. Selama pengelasan logam pendingin akan menyerap panas dari benda kerja. Metode ini cocok untuk pengelasan pelat tipis karena akan mengalami perubahan bentuk yang besar atau akan mudah cair jika tidak didinginkan dengan bahan / logam pendingin.

Tehnik Mengontrol Distorsi Sebelum Pengelasan Las SMAW

Melakukan pencegahan distorsi.
Ada beberapa langkah untuk mengontrol pengaruh perubahan bentuk (distorsi) sewaktu proses pengelasan yang meliputi:
x Sebelum pengelasan
x Sewaktu pengelasan
x Sesudah pengelasan

Tehnik Mengontrol Distorsi Sebelum Pengelasan.
a. Perencanaan yang baik
 Perencanaan yang baik
Perencanaan kampuh yang baik adalah panjang jarak minimum yang tepat dari kampuh untuk menghindari terlalu banyaknya pengelasan.

b. Pengelasan Catat
 Pengelasan Catat
Las catat adalah pengelasan dengan jumlah sedikit merupakan titik-titik saja yang akan berfungsi seperti klem. Jumlah dan ukuran dari titik-titik pengelasan yang diperlukan untuk mempertahankan kelurusan adalah sangat tergantung pada jenis dan tebal bahan. Tehnik pengelasan catat yang benar akan mempertahankan bahan sewaktu pengelasan.
Langkah pengelasan catat dapat perhatikan pada gambar berikut, yakni berselang-seling.

c. Alat Bantu (Jig dan Fixture)
 Alat Bantu (Jig dan Fixture)
Alat bantu ini digunakan untuk mempertahankan kelurusan bahan sebelum dan selama pengelasan. Bentuk alat bantu ini sangat tergantung pada bentuk bahan yang dilas. Berikut ini adalah beberapa gambar alat bantu untuk pengelasan:

d. Pengaturan Letak Bahan (Pre-setting)
 Pengaturan Letak Bahan (Pre-setting)
Pengaturan letak bahan yang akan dilas dapat dilakukan dengan cara mengganjal (menahan) untuk mengatasi konstraksi pada waktu pengelasan. Walaupun demikian cara meletakkan ganjal (penahan) sangat tergantung pada pengalaman dan pengetahuan operator untuk menempatkannya secara tepat.