Sejarah Las

Perkembangan proses pengelasan mulai dikenal pada awal abad ke 20. Sebagai sumber panas digunakan api yang berasal dari pembakaran gas Acetylena yang kemudian dikenal sebagai las karbit. Waktu itu sudah dikembangkan las listrik namun masih langka.

Pembekalan Dunia Industri

Acara ini membahas mengenai bagaimana lulusan SMK menghadapi dunia industri, dengan beberapa tantangan-tangangan yang harus dihadapi, mulai dari persaingan dari para SMK lainnya, persaingan kerja dengan dunia perguruan tinggi serta persaingan yang sudah berlangsung pada awal tahun depan (tahun 2016) yaitu MEA (Masyarakat Ekonomi Asean)..

Program Pendidikan Vokasi Industri

Sebagai wujud pelaksanaan tugas tersebut, Kemenperin telah menyusun program pembinaan dan pengembangan yang link and match antara SMK dan industri, dengan sasaran sampai tahun 2019 sebanyak 1.775 SMK meliputi 845.000 siswa untuk dikerjasamakan kepada 355 perusahaan industri

Lakukan Hal Ini Sebelum Ujian Nasional, Pasti Bakal Sukses!!!

Apakah kamu juga sudah siap menghadapi Ujian Nasional yang sebentar lagi akan berlangsung? Jika pada Ujian Nasional 2019 lalu banyak sekali siswa yang mengeluh merasa kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal Ujian Nasional, terutama matematika. Mereka merasa soal Ujian Nasional yang mereka hadapi tidak sama dengan materi yang diajarkan di sekolah

Showing posts with label SMAW. Show all posts
Showing posts with label SMAW. Show all posts

Saturday, April 16, 2022

Proses Dasar Pengelasan

Kompetensi Dasar :
2. Menjelaskan proses dasar pengelasan
Indikator :  
1. Dapat menjelaskan proses pengelasan busur manual
2. Dapat menyebutkan proses pengelasan oksi-asetelin
A. Materi Pembelajaran
TYPE WELDING : 
  SMAW ( Shield Metal Arc weld)
  GAW ( Gas Arc weld)
  GMAW (Gas Metal Arc weld)
  GTAW (Gas Tungsten Arc weld)
  SAW ( Shield Arc weld)

1. Proses pengelasan busur manual
A.  Definisi las busur manual
Definisi pengelasan busur manual yaitu metode penyambungan logam dengan cara bahan dialiri arus secara konstan. Dengan kata lain, arus pengelasan tetap konstan tanpa memperhatikan perubahan dari panjang busur.. Busur mempunyai karakteristik arus - tegangan yang sangat berbeda dengan tahanan dari beban peralatan listrik rumah tangga biasa.


B. Keuntungan dan kerugian las busur manual.
Mesin las busur harus mempunyai beberapa keuntunga sebagai berikut ini, yaitu :
(1) Mudah terbentuknya busur dan kelanjutannya
(2) Fluktuasi arus las kecil karena perubahan panjang busur
(3) Kenaikan tegangan yang cepat untuk mengganti penurunan arus las untuk mencegah selang waktu dari busur
(4) Tegangan tanpa beban yang cukup (tegangan sirkuit terbuka yang terjadi antara sisi luar elektrode yang perlu untuk menimbulkan dan memelihara busur. Jika tegangan terlalu tinggi, kemungkinan disebabkan oleh kejutan listrik).


Sementara kerugiannya :
(1) Membutuhkan operator las yang terlatih.
(2) Membutuhkan daya listrik yang memadai
(3) Membutuhkan ruangan kerja dengan sistem ventilasi yang bebas sehingga membutuhkan biaya investasi yang tinggi. 
 

C. Komponen-komponen las busur manual.
Komponen-komponen las busur manual sebagai berikut : 
1. Tang massa
2. Pemegang elektrode
3. Saklar pengatur arus AC
4. Trafo las
5. Tombol On/Off ( penyambung / pemutus supplai arus listrik )


Posisi pengelasan : 
     


A.  Proses Pengelasan oksi-asetelin
Pengelasan dengan gas oksi-asetilen dilakukan membakar bahan bakar gas C2 H2 dengan O2 sehingga menimbulkan nyala api dengan suhu yang dapat mencair logam induk dan logam pengisi. Sebagai bahan bakar dapat digunakan gas-gas asetilen, propan atau hidrogen. Diantara ketiga bahan bakar ini yang paling banyak digunakan adalah asetilen, sehingga las pada umumnya diartikan sebagai las oksiasetilen. Karena tidak memerlukan tenaga listrik, maka las oksiasetilen banyak dipakai di lapangan walaupun pemakaiannya tidak sebanyak las busur elektroda terbungkus.

 
B. Keuntungan dan kerugian las oksi-astelin
1. Keuntungan las oksi-asetelin
Adapun keuntungan las oksi-asetelin adalah :
1. Mudah dipelajari 
2. Nyala api pengelasan yang dihasilkan bermacam-macam fungsinya
2. Kerugian las oksi-asetelin

Adapun kekurangan las oksi-asetelin adalah :
1. Perawatan yang rumit dan mahal
2. Perlu operator yang disiplin dalam menjalankannya

C. Komponen-komponen las oksi-asetelin
Adapun komponen-komponen las oksi-astelin sebagai berikut :
1. Tabung Oksigen
2. Tabung Asetelin
3. Regulator Oksigen
4. Regulator Asetelin
5. Flashback arrester Asetelin
6. Selang Oksigen
7. Selang Asetelin
8. Blander las / blander potong


Monday, April 4, 2022

Tanda Pengerjaan Pada Gambar Kerja

TANDA PENGERJAAN
Tujuan

Setelah mempelajari bahan dalam bab ini, seharusnya Anda dapat:
1. Menyebutkan fungsi dari tanda pengerjaan.
2. Merencanakan berbagai tanda pengerjaan pada gambar kerja.
3. Mempergunakan tanda pengerjaan pada gambar kerja.

1. Fungsi Tanda Pengerjaan
Permukaan benda kerja memegang peran yang penting dalam perencanaan mesin, terutama untuk memperhitungkan gesekan, pelumasan, keausan, dan sebagainya. Untuk itu teknisi harus memenuhi syarat permukaan yang dikehendaki oleh perencana atau pemesan. Agar teknisi dapat memenuhi permukaan yang sesuai, maka karateristik permukaan harus tercantum dalam gambar teknik mesin, sehingga teknisi bisa mengerti permukaan apa yang diinginkan.
Untuk menghasilkan permukaan yang sesuai, maka pada gambar kerja perlu adanya tanda-tanda pengerjaan yang dinormalisasi yang diletakkan pada bagian-bagian dikehendaki permukaannya. Pelaksanaan penempatan tanda pengerjaan ini juga mengharuskan perpanjangan pada sebelah kanan sebagaimana gambar  dibaca.  Simbol  dasar dari tanda pengerjaan ini terdiri dari dua garis
dengan ketinggian yang tidak sama dengan perbandingan 1 : 2 yang membentuk sudut 60o satu sama lain (lihat Gambar 37).
Gambar 37. Lambang pengerjaan bebas dan tidak dikerjakan

Tidak semua permukaan benda dikerjakan dengan mesin. Ada kalanya karena sesuatu hal permukaan tersebut tidak dikerjakan, atau dibiarkan saja dan juga bisa permukaan tersebut tidak boleh dibuang, karena ukurannya sudah sangat pas. Konfigurasi permukaan yang bebas dikerjakan dengan mesin apapun dan permukaan yang tidak diijinkan untuk dikerjakan adalah seperti terlihat pada Gambar 37.
Gambar 37. Simbol dasar tanda pengerjaan
 
2.  Penulisan Tanda Pengerjaan
Pengerjaan permukaan yang mendapat pengerjaan mesin harus dicantumkan dengan keterangan pada simbol dasar yang berbentuk segi tiga. Adapun pengembangan spesifikasi dari penulisan simbol yang telah diberi keterangan adalah seperti terlihat pada Gambar 38 di bawah ini.

Gambar 38.  Simbol tanda pengerjaan dan keterangannya

Arah pengerjaan permukaan benda kerja sangat tergantung pada selera dan kehalusan (kekasaran) yang diinginkan. Harga kekasaran dan kelas kekasaran untuk beberapa nilai adalah seperti terlihat pada Tabel 5 di bawah ini.

 Tabel 5. Harga dan kelas kekasaran
Berkaitan dengan arah pengerjaan mesin, dibedakan menjadi enam bentuk arah. Adapun simbol simbol (lambang) arahnya adalah seperti terlihat pada Tabel 6 di bawah ini. Untuk nilai kelas kekasaran dari beberapa cara pengerjaan mesin adalah seperti terlihat pada Tabel 7.
 

Tabel 6. Lambang arah pengerjaan permukaan

Tabel 7. Kategori kekasaran berdasarkan pengerjaan mesin


Thursday, March 17, 2022

Jenis-Jenis Logam Dalam Dunia Teknik atau Industri

1.3   JENIS-JENIS LOGAM
Pada garis besarnya logam digolongkan menjadi dua, yaitu logam besi (ferro)  dan  logam  non ferro.  Logam  besi  terdiri  dari  baja,  baja  tuang,  paduan besi. Untuk logam non ferro dikelompokkan menjadi dua, yaitu logam berat dan logam ringan. Logam berat murni terdiri dari tembaga, timah putih, seng, timah hitam,  nikel,  wolfram,  dan  lain-lain.  Sedangkan  contoh  logam  berat  paduan adalah  kuningan,  perunggu  dan  patri.  Logam  ringan  murni  terdiri  dari aluminium,  perunggu,  berylium.


Contoh  logam  ringan  paduan  adalah  anti corodal, aluman dan avional.
Dari semua golongan logam dapat dibedakan menjadi lima bagian yaitu:
(a).   Logam berat adalah apabila berat jenisnya lebih besar dari 5 kg/dm3
Misalnya : nikel, kromium, tembaga, timah, seng, dan besi.
(b).   Logam ringan adalah apabila berat jenisnya kurang dari 5 kg/dm3
Misalnya : aluminium, magnesium, natrium, titanium, danlain- lain. 
(c).   Logam mulia adalah logam mempunyai sifat-sifat khusus seperti:Tahan terhadap bahan kimia, tahan terhadap korosi, dll.Contoh: Emas (Au), Platina (Pt), Perak (Ag).. mIsalnya:  emas, perak dan platina.
(d).  Logam refraktori yaitu logam tahan api. Misalnya : wolfram, molebdenum, dan titanium.
(e).   Logam radioaktif . misalnya : uranium dan radium.

1.3.1   LOGAM FERRO
Logam ferro yang dimaksud disini adalah logam besi. Logam besi dalam pemakaiannya  terlampau  lunak,  sehingga  dipadukan  dengan  zat  arang  untuk mendapatkan  sifat  kekerasan.  Adapun  menurut  pembagiannya  logam  ferro dibagi menjadi:

a.  Besi Tuang
Komposisi: Campuran besi dan karbon, kadar karbon sekitar 4% 
Sifat:  Rapuh,  tidak  dapat  ditempa,  baik  untuk  dituang,  kuat  dalam pemadatan, lemah dalam tegangan Penggunaan: Alas mesin, meja datar, badan ragum, bagian-bagian mesin 
bubut, blok silinder, cincin torak. 

b.  Besi Tempa
Komposisi: 99% besi murni dengan sidikit kotoran.
Sifat:  Dapat  ditempa,  liat,  tidak  dapat  dituang,  tetap  seperti  adonan  bila 
dipanasi.Penggunaan: Rantai jangkar, kait keran, landasan kerja plat.

c.  Baja Lunak
Komposisi: Campuran besi dan karbon. Kadar karbon 0,1% - 0,3%.
Sifat: Dapat ditempa, liat.
Penggunaan:  Mur,  baut,  sekrup,  pipa,  keperluan  umum  dalam pembangunan.

d.  Baja Karbon Sedang
Komposisi: Campuran besi dan karbon. Kadar karbon 0,4% - 0,6%.
Sifat: Lebih kenyal daripada keras
Penggunaan: Benda kerja tempa berat, poros, rel baja

e.  Baja Karbon Tinggi
Komposisi: Campuran besi dan karbon. Kadar karbon 0,7% - 1,5%.
Sifat: Dapat ditempa, dapat disepuh keras dan dimudakan, mudah ditempa.
Penggunaan: Kikir,  pahat, gergaji, tap, stempel, alat-alat mesin bubut dan sebagainya.

f.  Baja Cepat Tinggi
Komposisi:  Baja  karbon  tinggi  ditambah  nikel  atau  kobal,  chrom  atau tungsten.
Sifat: Rapuh, tahan suhu tinggi tanpa kehilangan kerasnya, dapat disepuh keras dan dimudakan.
Penggunaan: Mesin bubut, alat-alat mesin, mesin bor dan sebagainya.

Dari semua jenis logam dapat digolongkan menjadi logam murni dan logam paduan. Logam paduan artinya logam yang dicampur dengan logam lainatau bahkan dicampur dengan bukan logam.

Dalam penggunaan dan pemakaian pada umumnya, logam tidak merupakan logam murni melainkan logam paduan. Logam murni dalam pengertian ini adalah logam yang tidak dicampur dengan unsur lainnya atau pengertianlain yaitu yang diperoleh dari alam (hasil tambang) dalam keadaan murni dengan kadar kemurnian 99,99 %.

Dengan memadukan dua logam atau lebih dapat diperoleh sifat-sifat yang lebih baik dari pada logam aslinya. Memadukan dua logam yang lemah dapat diperoleh logam paduan yang kuat dan keras. Misalnya tembaga dan timah, keduanya adalah logam yang lunak, bila dipadukan menjadi logam yang keras dan kuat dengan nama perunggu. Besi murni adalah bahan yang lunak sedangkan zat arang (bukan logam) adalah bahan yang rapuh, paduan besi dengan zat arang menjadi baja yang keras dan liat.


1.3.2   LOGAM NON FERRO
Logam  Non  Ferro  disebut  juga  dengan  logam  bukan  besi, karena  tidak mempunyai  kandungan  besi  (Fe).  


Dari logam non ferro berat yang penting dalam paduan disebut tembaga, timah dan timbal. Dalam paduan ini dapat digunakan logam-logam berat sebagai unsure  paduan  seperti  seng,  antimon,  perak,  emas  dan  cadmium.  Logam  non ferro  berat  nikel,  molibden  dan  wolfram  merupakan  elemen  penting  sebagai elemen paduan dalam baja.

Logam  non  ferro  ringan  yang  penting  dalam  paduannya  disebut aluminium dan maknesium. 

Sifat  mekanik  logam  non  ferro  pada  umumnya  tidak  baik,  tetapi  hal  ini dapat  diperbaiki  dengan  paduan.  Sedangkan  pada  umumnya  logam  non  ferro tahan terhadap korosi, hal ini disebabkan kulit korosi yang kuat. Beberapa logam non  ferro  seperti  tembaga  dan  aluminium  mempunyai  daya  penghantar  panas dan  daya  penghantar  listrik  yang  baik.  Yang  termasuk  jenis  logam  non  ferro antara lain:

a.  Tembaga 
Warna: Coklat kemerah-merahan.
Sifat: Dapat ditempa, liat, penghantar panas dan listrik yang baik, kukuh.
Penggunaan:  Suku  bagian  listrik,  pemipaan,  alat-alat  dekorasi  dan sebagainya.

b.  Aluminium
Warna: Biru Putih
Sifat: Dapat ditempa, liat, bobot ringan, penghantar yang baik, baik untuk dituang.
Penggunaan:  Alat-alat  masak,  reflector,  industri  mobil,  industri  pesawat terbang.

c.  Timbel
Warna: Biru kelabu. 
Sifat: Dapat ditempa, sangat liat, tahan korosi air dan asam, bobot sangat berat.
Penggunaan: Kabel, baterai, bubungan atap.

d.  Timah
Warna: Bening keperak-perakan.
Sifat: Dapat ditempa, liat tahan korosi.
Penggunaan:  Melapisi  lembaran  baja  lunak  (pelat  timah),  industri pengawetan.

1.3.3  CAMPURAN NON FERRO
Campuran  non  ferro  ini  merupakan  campuran  antara  logam  non  ferro berat maupun logam non ferro ringan. Yang termasuk campuran non ferro antara lain:

a.  Loyang
Komposisi: Tembaga 65%, seng 35%.
Sifat: Empuk, lunak.
Penggunaan: Batang, kawat, sekrup, paku keeling, tuangan.

b.  Perunggu Fospor
Komposisi: Tembaga 90%, timah 9%, fosfor 1%.
Sifat: Kenyal, tahan korosi dengan baik.
Penggunaan: Bantalan mesin, pompa air.

c.  Duralumin
Komposisi: Aluminium 95%, tembaga 4%, mangan 1%.
Sifat: Dapat ditempa, liat, dapat dipukul dengan palu, direntangBobot: Ringan, kukuh.
Penggunaan: Pesawat terbang, suku bagian kendaraan, paku keling, mur, baut.

d.  Pelat Timah
Lembaran  tipis  baja  lunak  dilapis  timah  pada  kedua  belah  sisi  dan  pada semua tepinya. Harus berhati-hati benar dalam menangani dan menyimpan pelat  timah.  Lembaran  pelat  timah  harus  disimpan  dengan  kertas  atau bahan  lain  yang  sesuai  di  antara  setiap  pelat  untuk  mencegah  lepasnya lapis timah karena sesuatu hal. Bila lapis timah hilang akan timbul karatan. 

Pelat  timah  harus  diberi  tanda  dengan  pensil  tajam  dan  dipotong  tepat menurut  garis  itu.  Tepi  potongan  harus  dilapis  dengan  pateri,  juga  untuk mencegah terjadinya karatan. Bila tepi potongan berada pada sambungan, maka pematerian tepi dilakukan pada waktu memateri sambungan.Pelat  timah  sama  sekali  tidak  boleh  dipukul  dengan  martil.  Harus dipergunakan  kayu  keras  atau  martil  kayu.  Landasan  pande  timah  atau potongan-potongan kayu keras yang sesuai bentuknya dapat dipergunakan sebagai sarana pembentuk.


Wednesday, March 9, 2022

Berlatih Membuat Sambungan Tumpul kampuh V Dilas Dua Sisi ( V-butt double side ) posisi Di Bawah Tangan/ Flat ( 1G) Dengan Benar

SAMBUNGAN TUMPUL KAMPUH V POSISI DI BAWAH TANGAN ( 1G )
TUJUAN :

Setelah mempelajari dan berlatih membuat sambungan tumpul kampuh V dilas dua sisi ( V-butt double side ) posisi di bawah tangan/ flat ( 1G) pada pelat baja karbon, peserta diharapkan akan mampu : 
 melakukan persiapan pengelasan, meliputi peralatan dan bahan praktik; 
 menjelaskan prosedur membuat sambungan tumpul kampuh V posisi di bawah tangan/ flat ( 1G); dan
 membuat sambungan tumpul kampuh V dilas dua sisi dengan kriteria : - lebar jalur las 2 mm dari pinggir kampuh ( 11 mm )
- tinggi jalur las 2 mm
- sambungan jalur rata
- beda permukaan jalur maksimum 1 mm
- undercut maksimum 0,5 mm x 15%
- tidak ada overlap
- perubahan bentuk / distorsi maksimum 5 o.
 - Terak / catat las pada permukaan las maksimum 4 mm2

 ALAT DAN BAHAN :
1. Alat : 

 Seperangkat peralataan las busur manual. 
 Alat keselamatan dan kesehatan kerja. 
 Lembaran kerja/gambar kerja
2. Bahan : 
 Pelat baja karbon ukuran 75 x 200 x 6 mm ( 2 buah ), bevel 30 o - 35 o
 Elektroda E 6013, Ø 2,6 dan 3,2 mm

KESELAMATAN KERJA : 
 Periksa persambungan kabel-kabel las. Jaga agar tidak ada yang kurang kuat/ longgar. 
 Jauhkan benda-benda yang mudah terbakar dari lokasi pengelasan. 
 Gunakan alat keselamatan dan kesehatan kerja yang layak dan sesuai dengan fungsinya. 
 Jangan gunakan tang dan kabel las yang tidak terisolasi. 
 Bekerjalah pada ruang las dengan sirkulasi udara / ventilasi yang cukup. 
 Usahakan ruang las/ tempat pengelasan tidak terbuka, sehingga cahaya las tidak mengganggu lingkungan/ orang lain yang berada di sekitar lokasi. 
 Bertanyalah pada instruktor/ pembimbing jika ada hal-hal yang tidak dimengerti dalam melaksanakan pekerjaan. 
 Bersihkan alat dan tempat kerja setelah selesai bekerja.

LEMBARAN KERJA :
Persiapan 


Hasil :


LANGKAH KERJA :

a. Memeriksa kesiapan peralatan kerja, termasuk perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja las.
b. Menyiapkan 2 buah bahan pelat baja lunak ukuran 75 x 200 x 6 mm yang kedua sisi panjangnya telah dibevel 300 - 350.
c. Membersihkan bahan dan hilangkan sisi-sisi tajamnya dengan kikir atau grinda.
d. Membuat root face selebar 1 – 3 mm dengan menggunakan grinda dan kikir, dan yakinkan bahwa kedua bevel tersebut sama besar dan rata/ sejajar satu sama lainnya.


e. Mengatur arus pengelasan antara 90 – 120 Ampere.
f. Mengatur peletakan benda kerja sesuai dengan posisi pengelasan ( sesuai gambar kerja ).
g. Membuat las catat sepanjang 10 – 15 mm pada kedua ujung bahan dan yakinkan bahwa kedua kepingan tersebut rapat dan sejajar dengan jarak root gap 1 – 3 mm


h. Membersihkan hasil las catat menggunakan palu terak dan sikat baja. Jika berlebihan, ratakan dengan grinda potong ( cutting disk ).
i. Melakukan pengelasan jalur pertama ( root ) sambungan tumpul kampuh V menggunakan elektroda E 6013 Ø3,2 mm atau Ø2,6 mm dengan sudut elektroda antara 700 – 850 tanpa diayun.


j. Melakukan pengelasan jalur kedua dan ketiga menggunakan elektroda E 6013 Ø 3,2 mm dengan sudut elektroda 70o - 85o terhadap sisi pengelasan.


k. Membalik benda kerja, kemudian grinda akar las ( root ) selebar  5 mm dengan kedalaman 2 – 3 mm atau sampai kelihatan jalur akar secara merata


l. Melakukan pengelasan pada sisi bawah ( satu jalur ) dengan menggunakan elektroda yang sama tanpa diayun.


m. Memeriksakan hasil pengelasan yang dikerjakan kepada pembimbing/instruktor.
n. Mengulangi pekerjaan tersebut jika hasil pengelasan belum mencapai kriteria minimum yang ditentukan.
o. Serahkan benda kerja pada pembimbing untuk diperiksa.

Rangkuman
Persiapan Mengelas

1. Mesin las
Perhatikan mesin las yang Anda akan gunakan! apakah mesin las AC atau DC Untuk mesin las DC perhatikan handle polaritas telah menunjukkan pengkutuban yang sesuai dengan jenis elektroda yang dipakai. Dan periksa kabel las apakah tidak ada kebocoran (kabel las rusak). Apabila kabel las rusak segera dilaporkan kepada pembimbing. Untuk mesin las AC selain pemeriksaan kabel juga penyambungan kabel las terhadap mesin las biasanya menggunakan sepatu kabel yang diikatkan dengan mur-baut pada mesin las. Coba diperiksa apakah ikatannya tidak longgar, karena bila longgar akan menimbulkan kebocoran busur listrik yang membahayakan.

2. Arus las
Atur arus las pada mesin las, untuk menentukan besarnya arus las yang dipergunakan harus disesuaikan dengan tabel pemakaian arus yang terdapat pada bungkus elektroda. Biasanya pada tabel tersebut rentang arus las, misalnya untuk elektroda E 6013 dengan diameter elektroda 3,2 mm, rentang arus 90–120A. Ingat pemilihan diameter elektroda disesuaikan dengan tebal bahan/material yang akan dilas dan hasil pengelasan yang baik percikkan las halus serta percikkan mudah dihilangkan.

3. Benda Kerja
Bersihkan benda kerja dari semua jenis kotoran, sebab benda kerja/material yang kotor hasil pengelasan tidak akan sempurna.
Tempatkan benda kerja pada meja las dengan kedudukan yang rata.
Kedudukan benda kerja memanjang dihadapan anda, karena direncanakan mulai pengelasan dari kiri ke kanan, bagi yang kidal arahnya sebaliknya. 
Dengan maksud supaya anda dapat melihat busur las/cairan las dengan baik

4. Penyalaan busur
Untuk latihan menyalakan busur gunakan elektroda E 6013 dengan diameter 3.2 mm. Pasang atau jepit elektroda pada bagian yang tidak terbungkus oleh salutan. Selanjutnya hidupkan mesin las, sekarang elektroda sudah dialiri listrik, hati-hati terhadap sentuhan elektroda dengan meja, bisa terjadi penyalaan.
Berdirilah pada posisi yang nyaman untuk dapat mengikuti gerakan elektroda dan arahkan ujung elektroda ke benda kerja. Jarak antara ujung elektroda yang akan dinyalakan dengan permukaan benda kerja antara 20–30 mm, sekarang tutup muka anda dengan helm/kedok las.
Mulailah latihan penyalaan dengan cara menyentuhkan atau menggoreskan ujung elektroda pada permukaan benda kerja. Kedua cara tersebut dilatih berulang-ulang sampai menghasilkan gerakan penyalaan busur yang baik dan tinggi busur yang tetap.

G. Umpan Balik Dan Tindak Lanjut
Bila tingkat penguasan mencapai 80 % ke atas, silahkan melanjutkan ke Kegiatan Belajar 4. Bagus. Namun bila tingkat penguasaan masih di bawah 80 % harus mengulangi Kegiatan Belajar 3 terutama pada bagian yang belum dikuasai

Lembar Tugas
1. Mengapa pemasangan kabel las perlu diperhatikan dengan baik?
Kabel las harus terpasang dengan baik dikarenakan untuk mencegah panas yang mungkin timbul pada sepatu kabel yang bias menyebabkan kebakaran atau korsleting, selain itu pemasangan kabel yang pas akan membuat arus listrik dari mesin tidak akan lost atau berkurang pada saat pekerjaan pengelasan dilakukan.

2. Dari gambar terlihat ada berapa macam bentuk sambungan kabel las ke mesin las?
Dari gambar terlihat dua jenis bentuk sambungan kabel las ke mesin :
1. Dengan menggunakan sepatu kabel dengan cara kabel las dikencangkan menggunakan baut ke sepatu kabel.
2. Dengan menggunakan soket untuk menyambungkan kabel las ke mesin las.


Monday, March 7, 2022

Cara Menyalakan Dan Mematikan Electrode Serta Cara Mengayunkan Electrode Agar Mewujudkan Hasil Pengelasan Yang Baik

PENYALAAN DAN PENGAYUNAN LAS BUSUR LISTRIK
Tujuan Kegiatan Pembelajaran :

Dalam kegiatan belajar ini, siswa didik diberikan penjelasan mengenai; cara menyalakan dan mematikan electrode serta cara mengayunkan electrode agar dapat mewujudkan hasil pengelasan yang baik.

Uraian Materi : 
1. Menyalakan Dan Mematikan Elektroda 

Untuk menyalakan atau membuat nyala busur listrik perlu diperhatikan mesin las yang digunakan. Jika mesin las yang digunakan adalah mesin las AC, maka menyalakan dengan menggoreskan elektroda yang sudah terjepit pada penjepit elektroda, pada benda kerja yang sudah terhubung dengan kabel massa. Arah penggoresan elektroda membentuk busur atau seperti cara menggoreskan korek api, seperti terlihat pada gambar (A), 

adapun cara menyalakan las DC dengan cara menggoreskan dengan arah naik turun, seperti terlihat pada gambar (B), elektroda digerakkan lurus kebawah sampai menyentuh benda kerja kemudian diangkat diameter elektroda.


Setelah nyala busur listrik terjadi, maka posisi elektroda harus tetap dijaga pada jarak tertentu dari benda kerja agar nyala busur listrik yang terjadi dapat menyala secara kontinyu. Selama elektroda menyala, maka elektroda akan berkurang sehingga jarak ujung elektroda (panjang busur nyala) dengan benda kerja akan semakin renggang. Untuk menjaga agar panjang busur nyala tetap sama, maka pemegang elektroda harusditurunkan secara perlahan-lahan.

2. Mematikan Busur Listrik
Setelah satu bagian pengelasan selesai maka nyala busur listrik harus dimatikan. Cara mematikan nyala busur harus hati-hati, karena mematikan busur nyala berarti mengakhiri proses pengelasan yang berada pada ujung rigi las. 
Agar ujung akhir pengelasan tidak keropos dan terlalu tinggi atau rendah, maka cara mematikan nyala busur harus benar. Untuk memutuskan dan mematikan lengkung listrik las dari benda kerja dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
Cara pertama: 
- elektroda diangkat dan diturunkan sedikit kemudian di tarik keluar. (perhatikan gambar),


Cara kedua:
- elektroda diangkat sedikit dan diturun kan kembali sambil dilepas dengan cara mengayunkan kekiri atas.  (lihat gambar)


3. Menyambung Pada Alur Las
Bila elektroda harus diganti sebelum pengelasan selesai, maka untuk menyambung pengelasan , busur perlu dinyalakan lagi, menyalakan busur kembali ini dilakukan pada tempat kurang lebih 25 mm di muka las berhenti (lihat gambar). Elektroda digerakkan kebawah las dan diisi hingga sama besar dengan alur sebelumnya.


Rangkuman 4:
Menyalakan atau membuat nyala busur listrik perlu diperhatikan mesin las yang digunakan.
Memutuskan dan mematikan lengkung listrik las dari benda kerja dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
- elektroda diangkat dan diturunkan se dikit kemudian di tarik keluar.
- elektroda diangkat sedikit dan diturun kan kembali sam- bil dilepas dengan cara mengayunkan kekiri atas. Menyalakan busur untuk menyambung pengelasan , dilakukan pada tempat kurang lebih 25 mm di muka las berhenti.

Tugas 4:
 Alat dan Bahan
 
1. mesin las 1 buah
2. kabel massa Sesuai kebutuhan 
3. pemegang elektroda 1 buah
4. tang massa 1 buah
5. palu terak 1 buah
6. tang penjepit 1 buah
7. sikat kawat 1 buah
8. elektroda 1 buah
9. material st 37 1 lembar

Keselamatan dan Kesehatan Kerja
1. Gunakan pakaian praktik (jaket/apron).
2. Gunakan alat keselamatan seperti: pelindung muka, kaca mata las, resipator, sarung tangan, sepatu las.
3. Jangan memegang benda kerja sesaat setelah proses pengelasan, apabila akan memegang benda kerja gunakan tang panas atau sarung tangan.
4. Sewaktu busur listrik menyala jangan sekali-kali melihat dengan mata telanjang (tanpa kaca mata las).
5. Letakkan benda kerja panas pada tempat yang aman, jangan mengenai benda-benda yang berbahaya misal: kabel elektroda atau kabel massa dan benda-benda mudah terbakar.

Langkah Kerja
1. Mesin las disiapkan dan stel amperenya sesuai kebutuhan.
2. Siapkan alat bantu seperti sikat las, palu las, dan tang penjepit.
3. Tempatkan benda kerja diatas mej las dan pasangkan klem massa sebaik mungkin agar pada saat pengelasan terjadi sirkuit listrik yang baik. Pasangkan elektroda pada tang las dan siap untuk memulai pengelasan.
4. Atur jarak busur listrik dijauhkan sebesar 2 x ø elektroda, untuk pemanasan bahan dasar.
5. Kembalikan pada jarak semula 1 x ø elektroda.
6. Bersihkan terak dari kawah las.
7. Mintalah petunjuk guru/Instruktur apabila ada hal-hal yang belum jelas.
8. Lakukan seluruh pekerjaan dengan tekun dan penuh disiplin (tidak ceroboh).

Tes Formatif 4:
1. Sebutkan dan jelaskan tiga gerakan elektroda pada waktu proses pengelasan?
2. Jelaskan dengan singkat cara menyalakan busur listrik?
3. Jelaskan dengan singkat cara memastikan nyala busur listrik? 

Kunci Jawaban Tes Formatif 4:
1. Gerakan elektroda pada waktu proses pengelasan
a. Gerakan turun sepanjang sumbu elektroda, gerakan ini dilakukan untuk mengatur jarak elektroda dan benda kerja agar nyala busur listrik tetap.
b. Gerakan ayunan elektroda, gerakan ini diperlukan untuk mengatur lebar alur las yang dikehendaki. 
c. Gerakan ayunan ke atas menghasilkan alur las yang kecil, sedangkan ayunan ke bawah menghasilkan alur las yang lebar. Penembusan las pada ayunan ke atas lebih dangkal dari pada ayunan ke bawah. 

2. Menyalakan Busur Listrik.
a. Dengan Cara Menggoreskan.
Elektroda dipegang secara menyudut dan ujung elektroda digoreskan pada permukaan benda kerja, (bisa dilakukan mesin las AC)
b. Dengan Cara Mengetuk Atau Menyentuhkan. 
Elektroda dipegang secara tegak lurus. Elektroda diketukkan/disentuhkan naik turun hingga terjadi busur listrik (bisa digunakan pada mesin las DC).

3. Cara Mematikan Busur Listrik.
a. Elektroda diangkat dan diturunkan sedikit dan diturunkan sedikit kemudian ditarik keluar.
b. Elektroda diangkat sedikit dan diturunkan kembali sambil dilepas dengan cara mengayunkan kekiri atas.

E V A L U A S I
Untuk mengetahui kemampuan belajar siswa didik perlu diadakan tes formatif, motorik maupun produk dari hasil belajar siswa. Dan diakhir modul ini, dillakukan dengan memberikan soal evaluasi sebagai berikut :

Soal Evaluasi :
1. Kumparan primer suatu transformator dialiri arus 5 A dengan tegangan 4800 volt. Arus pada kumparan sekunder 90 A dengan tegangan 240 volt. 
Tentukan efesiensi transformator tersebut. 
2. Jelaskan pengaruh jarak busur pada hasil las. 
3. Suatu tansformator mempunyai kumparan primer dengan 400 lilitan dan kumparan sekunder dengan 100 lilitan. Terminal primer disambung ketegangan sumber 220 volt.
a. berapa tegangan yang keluar pada terminal lilitan sekunder?
b. Transformator ini termasuk jenis step-up atau step-down? 

Kunci Jawaban Soal Evaluasi :
1. Diketahui Is = 90 A
= 5 A
= 240 Volt
= 4800 Volt
Daya input : 
 Pin = Vp.Ip = 4800 x 5 = 24000 VA
 = 24 KVA
Daya output:
 Pout = Vs.Vis = 240 x 90 = 21600 VA
Efesiensi : ? = 
(Pout / Pin)x 100 % = 90%

2. Jarak busur (L) yang normal adalah kurang lebih sama dengan diameter (D) kawat las.
a. Bila jarak busur tepat (L=D), maka cairan elektroda akan mengalir mengendap dengan baik.
Hasilnya: - rigi-rigi las halus dan baik,
- tembusan las baik,
- percikan teraknya halus.


b. Bila jarak busur terlalu besar (L>D), maka timbul bagian-bagian yang berbentuk bola cairan elektroda.
Hasilnya : - rigi-rigi las kasar,
- tembusan las dangkal
- percikan teraknya kasar, 
- keluar dari alur las.


c. Bila busur las terlalu pendek, akan sukar memeliharanya, bisa terjadi pembekuan yang elektroda pada pengelasan.
Hasilnya:
- elektroda sering melekat pada benda kerja,
- rigi-rigi las tidak merata, 
- tembusan las tidak baik, 
- kampuh las terlalu kecil, 
- percikan teraknya kasar dan berbentuk bola. 


3. Ns = 400
Np = 100 
n = (Ns/Np) = 400/100 = 4

a. tegangan pada terminal sekunder
Vs = n Vp = 4 (220 Volt) = 880 volt
b. karena harga n lebih besar dari 1, maka termasuk transformator step-up.

Kriteria Kelulusan Penilaian


Sunday, March 6, 2022

Cara Menentukan Besarnya Arus Yang Digunakan Dan Peranan Kecepatan Pergerakan Electrode Dalam Pengelasan

TEKNIK DASAR LAS BUSUR LISTRIK 
Tujuan Kegiatan Pembelajaran :

Dalam kegiatan belajar ini, siswa didik diberikan penjelasan mengenai; cara menentukan besarnya arus yang digunakan dan peranan kecepatan pergerakan electrode dalam pengelasan. 

Uraian Materi :
1. Menentukan besarnya arus listrik

Besar arus dan tegangan listrik yang digunakan dalam pengelasan harus diatur sesuai kebutuhan. Daya yang dibutuhkan untuk pengelasan tergantung dari besarnya arus dan tegangan listrik yang digunakan. Tidak ada aturan pasti besar tegangan listrik pada mesin las yang digunakan.
Hal ini berhubungan dengan keselamatan kerja operator las tubuh manusia tidak akan mampu menahan arus listrik dengan tegangan yang tinggi.
Tegangan listrik yang digunakan pada mesin las (tegangan pada ujung terminal) berkisar 55 volt sampai 85 volt. Tegangan ini disebut sebagai tegangan pembakaran. Bila nyala busur listrik sudah terjadi maka tegangan turun menjadi 20 volt sampai 40 volt. Tegangan ini disebut dengan tegangan kerja. Besar kecilnya tegangan kerja yang terjadi tergantung dari besar kecilnya diameter elektroda. Semakin besar arus yang terjadi. 

Dengan alasan diatas maka pada mesin las pengaturan yangdilakukan hanya besar arusnya saja.
Pengaturan besar kecilnya arus dilakukan dengan cara memutar tombol pengatur arus. Besar arus yang digunakan dapat dilihat pada skala yang ditunjukkan oleh amperemeter (alat untuk mengukur besar arus listrik) yang terletak pada mesin las. 
Pada masing-masing las, arus minimum dan arus maksimum yang dapat dicapai berbeda-beda, pada umunya berkisar 100 ampere sampai 600 ampere. Pemilihan besar arus listrik tergantung dari beberapa faktor, antara lain: diameter elektroda yang digunakan, tebal benda kerja, jenis elektroda yang digunakan, polaritas kutub-kutubnya dan posisi pengelasan.
Tetapi dalam prakteknya dipilih atau ditentukan ampere pertengahan, misalnya: untuk elektroda EGOIO, ampere minimum dan maksimumnya adalah 80-120 ampere. Maka ampere pertengahan yang dipilih 100 ampere.
Hal ini dapat dilihat pada tebel berikut ini.
2. Pengaruh arus listrik pada hasil las
Bila arus terlalu rendah (kecil), akan menyebabkan: 
a. penyalaan busur listrik sukar dan busur listrik yang terjadi tidak stabil,
b. terlalu banyak tumpukan logam las karena panas yang terjadi tidak mampu melebihkan elektroda dan bahan bakar dengan baik,
c. penembusaun kurang baik,
d. pinggiran-pinggiran dingin.
Bila arus terlalu tinggi (besar), maka elektroda akan mencair terlalu cepat dan menghasilkan: (lihat gambar)
- permukaan las yang lebih lebar dan datar,
- perembasan terlalu dalam,
- terjadi undercut sepanjang alur las.


3. Pengaruh kecepatan elektroda pada hasil las 
Untuk menghasilkan rigi–rigi las yang rata dan halus, kecepatan tangan menarik atau mendorong elektroda waktu mengelas harus stabil.
Apabila elektroda di gerakkan: 
a. tepat dan stabil, menghasilkan daerah perpaduan dengan bahan dasar dan perembesan luasnya
baik. ( lihat gambar ), 


b. terlalu cepat, menghasilkan perembesan las yang dangkal karena pemanasan bahan bakar dasar (perhatikan gambar) 


c. terlalu lambat, menghasilkan alur yang lebar (lihat gambar). Hal ini dapat menimbulkan kerusakan sisi las, terutama bila bahan dasar yang dilas tipis.
 

Rangkuman 3:
Besar arus dan tegangan listrik yang digunakan dalam pengelasan harus diatur sesuai kebutuhan.
Bila arus terlalu rendah (kecil), akan menyebabkan: 
a. busur listrik tidak stabil.
b. terlalu banyak tumpukan logam.
c. penembusaun kurang baik.
d. pinggiran-pinggiran dingin.
Bila arus terlalu tinggi (besar), maka elektroda akan mencair terlalu cepat dan menghasilkan: 
- permukaan las yang lebih lebar dan datar,
- perembasan terlalu dalam,
- terjadi undercut sepanjang alur las.
Kecepatan tangan menarik atau mendorong elektroda waktu mengelas harus stabil untuk menghasilkan las yang rata dan halus,.

Tugas 3:
Alat dan Bahan 

1. mesin las 1 buah
2. kabel massa Sesuai kebutuhan 
3. pemegang elektroda 1 buah
4. tang massa 1 buah
5. palu terak 1 buah
6. tang penjepit 1 buah
7. sikat kawat 1 buah
8. elektroda 1 buah
9. material st 37 1 lembar

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 
1. Gunakan pakaian praktik (jaket/apron).
2. Gunakan alat keselamatan seperti: pelindung muka, kaca mata las, resipator, sarung tangan, sepatu las.
3. Jangan memegang benda kerja sesaat setelah proses pengelasan, apabila akan memegang benda kerja gunakan tang panas atau sarung tangan.
4. Sewaktu busur listrik menyala jangan sekali-kali melihat dengan mata telanjang (tanpa kaca mata las).
5. Letakkan benda kerja panas pada tempat yang aman, jangan mengenai benda-benda yang berbahaya misal: kabel elektroda atau kabel massa dan benda-benda mudah terbakar.

Langkah Kerja 
1. mesin las disiapkan dan stel amperenya,
2. pakailah alat-alat keselamatan kerja seperti: sarung tangan, apron, helm las dan sepatu kerja, 
3. pasangkan klem massa sebaik mungkin agar pada saat pengelasan terjadi sikuit listrik yang baik. Pasangkan elektroda pada tang las,
4. siapkan alat-alat bantu seperti: sikat las, palu las, dan tang penjepit.
5. putarlah hadle pengatur ampere sesuai tabel yang ditentukan,
6. lakukan setiap tahap menurut langkah kerja, 
7. mintalah petunjuk guru/instruktur apabila ada hal-2 yang belum jelas.
8. lakukan seluruh pekerjaan dengan tekun dan penuh disiplin.

Tes Formatif 3:
1. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan besarnya arus las?
2. Sebutkan pengaruh arus las yang terlalu besar dan kecil pada hasil las!
3. Jelaskan pengaruh kecepatan elektrda yang terlalu cepat, tepat dan stabil pada hasil las?

Kunci Jawaban Tes Formatif 3:
1. faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan besarnya arus las:
a. Diameter elektroda yang digunakan 
b. Tebal benda kerja
c.  Jenis elektroda yang digunakan 
d. Polaritas kutub-kutubnya 
e.  Posisi pengelasan

2. Arus terlalu kecil:
a. Penyalaan busur listrik sukar dan busur listrik yang terjadi tidak stabil.
b. Rembusan kurang baik. 
c. Terlalu banyak tumpukan las karena panas yang terjadi tidak mampu melelehkan elektroda dan bahan dasar dengan baik.
Arus terlalu besar
d.  Permukaan las lebih lebar dan dasar. 
e. Penembusan terlalu dalam.
f. Terjadi UNDERCUT sepanjang alur las.

3. pengaruh kecepatan elektrda yang terlalu cepat, tepat dan stabil pada hasil las:
a. Terlalu cepat : Perembesan las dangkal karena pemanasan bahan dasar kurang dan cairan elektroda kurang menembus bahan dasar.
b. Tepat dan stabil : Menghasilkan daerah perpaduan dengan perembesan lasnya baik.

Lembar Kerja 3: 
Persiapkanlah alat dan bahan berikut untuk proses pekerjaan las, kemudian laporkan langkah-langkah persiapan anda tersebut dan susunlah penjelasan lengkap agar pekerjaan berjalan dengan aman dan selamat.

Alat dan Bahan 
1. mesin las AC-DC 1 buah
2. kabel massa Sesuai kebutuhan 
3. pemegang elektroda 1 buah
4. tang massa 1 buah
5. palu terak 1 buah
6. tang penjepit 1 buah
7. sikat kawat 1 buah
8. elektroda 1 buah
9. material st 37 100 x 100 x 10 1 lembar

Saturday, March 5, 2022

Fungsi atau Kegunaan Dan Macam-Macam Peralatan Dari Las Busur Listrik Serta Soal Latihan

PERALATAN LAS BUSUR LISTRIK
Tujuan Kegiatan Pembelajaran :

Dalam kegiatan belajar ini, siswa didik diberikan penjelasan mengenai; fungsi atau kegunaan serta macam-macam peralatan dari las busur listrik.

Uraian Materi :
Mesin las yang ada pada unit peralatan las berdasarkan arus yang dikeluarkan pada ujung-ujung elektroda dibedakan menjadi beberapa macam.
1. Mesin Las Arus Bolak-balik (Mesin AC)
Mesin memerlukan arus listrik bolak-balik atau arus AC yang dihasilkan oleh pembangkit listrik, listrik PLN atau generator AC, dapat digunakan sebagai sumber tenaga dalam proses pengelasan.
Besarnya tegangan listrik yang dihasilkan oleh sumber pembangkit listrik belum sesuai dengan tegangan yang digunakan untuk pengelasan. 
Bisa terjadi tegangannya terlalu tinggi atau terlalu rendah, sehingga besarnya tegangan perlu disesuaikan terlebih dahulu dengan cara menaikkan atau menurunkan tegangan. Alat yang digunakan untuk menaikkan atau menurunkan tegangan ini disebut transformator atau trafo.
Kebanyakan trafo yang digunakan pada peralatan las adalah jenis trafo step-down, yaitu trafo yang berfungsi menurunkan tegangan. 

Hal ini disebabkan kebanyakan sumber listrik, baik listrik PLN maupun listrik dari sumber yang lain, mempunyai tegangan yang cukup tinggi, padahal kebutuhan tegangan yang dikeluarkan oleh mesin las untuk pengelasan hanya 55 volt sampai 85 volt. Transformator yang digunakan pada peralatan las mempunyai daya yang cukup besar. Untuk mencairkan sebagian logam induk dan elektroda dibutuhkan energi yang besar, karena tegangan pada bagian terminal kumparan sekunder hanya kecil, maka untuk menghasilkan daya yang besar perlu arus besar. 

Arus yang digunakan untuk peralatan las sekitar 10 ampere sampai 500 ampere. Besarnya arus listrik dapat diatur sesuai dengan keperluan las. Untuk keperluan daya besar diperlukan arus yang lebih besar pula, dan sebaliknya.

2. Mesi Las Arus Searah (Mesin DC)
Arus listrik yang digunakan untuk memperoleh nyala busur listrik adalah arus searah. Arus searah ini berasal dari mesin berupa dinamo motor listrik searah. Dinamo dapat digerakkan oleh motor listrik, motor bensin, motor diesel, atau alat penggerak yang lain. Mesin arus yang menggunakan motor listrik sebagai penggerak mulanya memerlukan peralatan yang berfungsi sebagai penyearah arus. Penyearah arus atau rectifier berfungsi untuk mengubah arus bolak-balik (AC) menjadi arus searah (DC). Arus bolak-balik diubah menjadi arus searah pada proses pengelasan mempunyai beberapa keuntungan, antara lain:
a. nyala busur listrik yang dihasilkan lebih stabil,
b. setiap jenis elektroda dapat digunakan pada mesin las DC,
c. tingkat kebisingan lebih rendah,
d. mesin las lebih fleksibel, karena dapat diubah ke arus bolak-balik atau arus searah.
Mesin las DC ada 2 macam, yaitu mesin las stasioner atau mesin las portabel. Mesin las stasioner biasanya digunakan pada tempat atau bengkel yang mempunyai jaringan listrik permanen, misal listrik PLN. 
Adapun mesin las portabel mempunyai bentuk relatif kecil biasanya digunakan untuk proses pengelasan pada tempat-tempat yang tidak terjangkau jaringan listrik. 
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengoperasian mesin las adalah penggunaan yang sesuai dengan prosedur yang dikeluarkan oleh prabrik pembuat mesin, perawatan yang sesuai dengan anjuran. 
Sering kali gangguan-gangguan timbul pada mesin las, antara lain mesin tidak mengeluarkan arus listrik atau nyala busur listrik lemah.

Kelebihan mesin DC dan AC
Sumber penyebab gangguan pada mesin las bisa terjadi dari dalam mesin (internal) atau dari luar (eksternal). Gangguan-gangguan dari luar yang bisa terjadi misalnya arus dari sumber tegangan mati atau tegangan dari sumber lemah atau turun. Adapun gangguan dari dalam mesin sendiri misalnya sikat katup mesin DC kotor, mesin las terlalu panas, kumparan pada trafo rusak (akibat hubung singkat atau lilitannya putus), atau ada ada salah satu instalasi yang tidak terhubung (ada kabel putus).

Gangguan-gangguan yang timbul dapat diatasi dengan beberapa cara, antara lain menaikkan putaran generator untuk menaikkan tegangan atau menaikkan arus yang lemah, memperbaiki atau mengganti lilitan kumparan trafo, mendinginkan mesin, jika kabel amper rusak diganti yang baik, memperbaiki hubungan kabel, membersihkan sikat pada katup, dan menghidupkan listrik cadangan bial sumber utamanya mati.

3. Mesin Las Ganda (Mesin AC-DC)
Mesin las ini mampu melayani pengelasan dengan arus searah (DC) dan pengelasan dengan arus bolak-balik. Mesin las ganda mempunyai transformator satu fasa dan sebuah alat perata dalam satu unit mesin. Keluaran arus bolak-balik diambil dari terminal lilitan sekunder transformator melalui regulator arus. Adapun arus searah diambil dari keluaran alat perata arus. Pengaturan keluaran arus bolakbalik atau arus searah dapat dilakukan dengan mudah, yaitu hanya dengan memutar alat pengatur arus dari mesin las.
Mesin las AC-DC lebih fleksibel karena mempunyai semua kemampuan yang dimiliki masing-masing mesin las DC atau mesin las AC. Mesin las jenis ini sering digunakan untuk bengkel-bengkel yang mempunyai jenis-jenis pekerjaan yang bermacam-macam, sehingga tidak perlu mengganti-ganti las untuk pengelasan berbeda. 

Rangkuman 2:
Mesin Las Arus Bolak-balik. Kebanyakan trafo yang digunakan pada peralatan las adalah jenis trafo step-down, Mesi Las Arus Searah. Arus listrik yang digunakan untuk memperoleh nyala busur listrik adalah arus searah. Arus searah ini berasal dari mesin berupa dinamo motor listrik searah. 
Arus bolak-balik diubah menjadi arus searah pada proses pengelasan mempunyai beberapa keuntungan, antara lain:
a. nyala busur listrik yang dihasilkan lebih stabil,
b. setiap jenis elektroda dapat digunakan untuk mesin las DC.
c. tingkat kebisingan lebih rendah,
d. mesin las lebih fleksibel, karena dapat diubah ke arus bolak-balik atau arus searah. 

Tugas 2:
Alat dan Bahan 

1. mesin las AC, DC dan AC-DC 1 buah 
2. kabel massa Sesuai kebutuhan 
3. pemegang elektroda 1 buah 
4. tang massa 1 buah
5. palu terak 1 buah
6. tang penjepit (panas) 1 buah
7. sikat kawat 1 buah
8. elektroda 1 Dos
9. material st 37 (200 x 200 x 100) 1 lembar

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 
1. Gunakan pakaian praktik (jaket/apron).
2. Gunakan alat keselamatan seperti: pelindung muka, kaca mata las, resipator, sarung tangan, sepatu las.
3. Jangan memegang benda kerja sesaat setelah proses pengelasan, apabila akan memegang benda kerja gunakan tang panas atau sarung tangan.
4. Sewaktu busur listrik menyala jangan sekali-kali melihat dengan mata telanjang (tanpa kaca mata las).
5. Letakkan benda kerja panas pada tempat yang aman, jangan mengenai benda-benda yang berbahaya misal: kabel elektroda atau kabel massa dan benda-benda mudah terbakar.
6. Bebaskan bagian yang akan dilas dari kontak dengan bahan-bahan yang mudah terbakar dan ruangan bertekanan. 

Langkah Kerja 
1. Mesin las disiapkan dan stel amperenya, yaitu “ON” untuk menghidupkan dan “OFF” untuk mematikan mesin las.
2. Pakailah alat-alat keselamatan kerja seperti: sarung tangan, apron, helm las, dan sepatu kerja.
3. Pasangkan klem massa sebaik mungkin agar pada saat pengelasan terjadi sirkuit listrik yang baik. Pasangkan elektroda pada tang las.
4. Siapkan alat-alat bantu seperti: sikat las, palu las dan tang penjepit.
5. Lakukan setiap proses menurut langkah kerja yang ditentukan.
6. Mintalah petunjuk guru/instruktur apabila ada hal-hal yang belum jelas.
7. Lakukan seluruh pekerjaan dengan tekun dan penuh disiplin.

Tes Formatif 2: 
1. Sebutkan peralatan-2 yang digunakan untuk satu unit las busur listrik?
2. Sebutkan dan jelaskan dengan singkat tiga macam mesin las listrik?
3. Sebutkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh mesin las AC dan mesin las DC? 

Kunci Jawaban Tes Formatif 2:
1. a. Pemegang elektroda : berfungsi mengakibatkan arus sehingga pemegang elektroda harus kokoh,
b. klem massa : berfungsi mengalirkan arus, harus kokoh agar mampu mengalirkan arus dengan baik,
c. kabel las : berfungsi mengalirkan listrik, arus yang digunakan untuk pengelasan cukup besar, maka perlu diperhatikan ukuran kabel yang sesuai.

2. a. Mesin las AC : Mesin las ini memrlukan sumber arus bolak-balik fase tunggal dengan sebuah transformator,
b. Mesin las DC : Mesin las ini mengubah arus AC yang masuk menjadi arus DC keluar dengan bantuan rectifier bekerjanya tenang dan biasanya mempunyai tombol pengatur tunggal untuk menyetel arus listrik, 
c. Mesin las AC-DC : Merupakan gabungan dari mesin las AC dan mesin las DC dengan mesin ini lebih banyak kemungkinan pemakaian karena arus yang keluar dapat dipilih AC atau DC dengan hanya mengubah posisi handle pada mesin tersebut

3. Kelebihan Mesin Las AC dan Mesin Las DC. 
Mesin las AC : 
👉 Perlengkapan dan perawatan lebih murah.
👉Kabel massa dan kabel elektroda dapat ditukar untuk mempengaruhi yang dihasilkan. 
👉 Busur nyala kecil sehingga mengurangi timbulnya keropos pada rigi-rigi las.
Mesin las DC : 
👉Busur nyala listrik yang dihasilkan stabil. 
👉Dapat menggunakan semua jenis elektroda. 
👉 Dapat digunakan untuk pengelasan pelat tipis.

Lembar Kerja 2: 
Alat dan Bahan 

1. mesin las AC. 1 buah 
2. kabel massa Sesuai kebutuhan 
3. pemegang elektroda 1 buah 
4. tang massa 1 buah
5. palu terak 1 buah
6. tang penjepit (panas) 1 buah
7. sikat kawat 1 buah
8. elektroda 1 Dos
9. material st 37 (200 x 200 x 100) 1 lembar

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 
1. Gunakan pakaian praktik (jaket/apron).
2. Gunakan alat keselamatan seperti: pelindung muka, kaca mata las, resipator, sarung tangan, sepatu las.
3. Jangan memegang benda kerja sesaat setelah proses pengelasan, apabila akan memegang benda kerja gunakan tang panas atau sarung tangan.
4. Sewaktu busur listrik menyala jangan sekali-kali melihat dengan mata telanjang (tanpa kaca mata las).
5. Letakkan benda kerja panas pada tempat yang aman, jangan mengenai benda-benda yang berbahaya misal: kabel elektroda atau kabel massa dan benda-benda mudah terbakar.
6. Bebaskan bagian yang akan dilas dari kontak dengan bahan-bahan yang mudah terbakar dan ruangan bertekanan. 

Langkah Kerja 
1. Siapkan mesin las dan aturlah besar amperenya. 
2. Pakailah alat-alat keselamatan kerja seperti: sarung tangan, apron, helm las, dan sepatu kerja.
3. Pasangkan klem massa sebaik mungkin agar pada saat pengelasan terjadi sirkuit listrik yang baik. Pasangkan elektroda pada tang las.
4. Siapkan alat-alat bantu seperti: sikat las, palu las dan tang penjepit.
5. Lakukan lima lajur pengelasan pada pelat yang tersedia.
6. Catatlah langkah kerja anda dalam mengelas.
7. Tunjukkan hasil laporan kerja anda kepada guru/instruktur

Friday, March 4, 2022

Pembahasan Transformator Dan Soal Materi Serta Latihannya

TRANSFORMATOR
Tujuan Kegiatan Pembelajaran :
Dalam kegiatan belajar ini, siswa didik diberikan penjelasan mengenai; pengertian, fungsi atau kegunaan serta macam-macam dari transformator.

Uraian Materi :
Transformator adalah alat yang berfungsi mengubah, yaitu menaikkan menurunkan GGL (tegangan) sumber berdasarkan prinsip imbas elektromagnetik.
Gambar skema dapat dilihat pada gambar 2.5 salah satu kumparan  disebut kumparan primer dan kumparan sekunder. Tegangan sumber disambung dengan terminal kumparan primer, dan beban tersambung dengan terminal kumparan sekunder.


Prinsip Kerja Transformator 
Jika ada aliran arus pada kumparan primer, maka akan timbul perubahan fluks magnetik dibagian primer. Akibatnya fluks magnetik yang dilingkupi oleh sekunder berubah pula, sehingga pada bagian kumparan sekunder terjadi pula GGL imbas. Perubahan kuat arus pada bagian primer harus terus menerus. Oleh karena itu arus yang melewati kumparan primer harus arus bolak-balik (arus yang berubah terhadap waktu).

Macam-macam transformator, yaitu transformator Step-Up dan transformator Step-Down. 
1. Transformator Step-Up.
Transformator Step-Up adalah trafo yang digunakan untuk memperbesar GGL atau tegangan listrik suatu sumber (untuk menaikkan tegangan). Transformator ini mempunyai tegangan sekunder listrik tinggi dibandingkan tegangan primernya. Rasio perbandingan tegangan sekunder  dengan primer sama dengan rasio perbandingan jumlah lilitan pada kumparan sekunder dan kumparan primer. 


2. Transformator Step-Down
Transformator Step-down adalah trafo yang digunakanan untuk memperkecil GGL atau tegangan listrik suatu sumber (untuk menurunkan tegangan sumber). Transformator ini mempunyai tegangan listrik tinggi dibandingkan tegangan sekunder. 

3. Perbandigan Lilitan
 Perbandigan Lilitan (n) adalah perbandingan antara jumlah lilitan kumparan sekunder (Ns) dengan jumah lilitan kumparan primer (Np), n = Ns / Np, perbandingan jumlah lilitan primer dengan sekunder menentukan perbandingan tegangan primer (input) dan sekunder (output). Untuk menentukan berapa penurunan atau kenaikkan tegangan yang akan kita inginkan, dapat digunakan persamaan sebagai berikut.
Keterangan: 
Vs = tegangan primer dalam volt,
Ns = jumlah lilitan kumparan primer,
Vp = tegangan sekunder dalam volt,
Np = jumlah lilitan kumparan sekunder

Rangkuman 1:
Aliran arus pada kumparan primer menimbulkan perubahan fluks magnetik dibagian primer, yang mengakibatkan fluks magnetik dibagian sekunder berubah pula, sehingga pada kumparan sekunder terjadi pula GGL imbas. 
Ada dua macam transformator, yaitu transformator Step-Up dan transformator Step-Down.

Tugas 1: 
Alat dan Bahan.

1. Transfomator. 1 buah 
2. Kawat email. Sesuai kebutuhan 
3. Inti besi. Sesuai kebutuhan
4. Terrminal kabel Sesuai kebutuhan
5. Pernis. ½ Kg
6. Tang potong. 1 buah 
7. Tang cucut. 1 buah
8. Tang kombinasi. 1 buah
9. Penggulung (rol) kawat. 1 buah
10. Kaos tangan. 1 set 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 
1. Gunakan pakaian praktik.
2. Bacalah dan pahami putunjuk praktik pada setiap lembar kegiatan. 
3. Janganlah meletakkan alat dan bahan praktik ditepi meja.
4. Lakukan pengamatan dengan teliti.
5. Hati-hati dalam melakukan praktik. 

Langkah Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Amatilah tiap-tiap bagian transformator. 
3. Gambarkan tiap-tiap bagian transformator sesuai pengamatan yang telah dilakukan
4. Hitung besarnya tegangan pada terminal lilitan sekunder.
5. Hitung jumlah lilitan sekunder.
6. Hitung perbandingan lilitannya.
7. Hitung daya transformator dan efesiennya
.
Tes Formatif 1: 
1. Suatu transformator mempunyai kumparan primer dengan 500 lilitan, dan kumparan sekunder dengan 100 lilitan. Terminal primer disambung  ke tegangan sumber 220 volt. 
a. berapa tegangan yang keluar pada terminal lilitan sekunder?
b. Transformator ini termasuk jenis step-up atau step-down? 
2. Transformator step-down mempunyai jumlah lilitan primer 300 lilitan, dan perbandingan lilitan 0.3 jika terminal disambung ke tegangan sumber 110 volt, tentukan:
a. jumlah lilitan sekunder.
b. Tegangan yang keluar pada terminal lilitan sekunder!
3. Suatu transformator mempunyai kumparan primer dengan 100 lilitan, dan kumparan sekunder 600 lilitan. Berapa perbandingan lilitannya?

Kunci Jawaban Tes Formatif 1:



Lembar Kerja 1: 
Alat dan Bahan.

1. Transfomator. 1 buah 
2. Kawat email. Sesuai kebutuhan 
3. Inti besi. Sesuai kebutuhan
4. Terrminal kabel Sesuai kebutuhan
5. Pernis. ½ Kg
6. Tang potong. 1 buah 
7. Tang cucut. 1 buah
8. Tang kombinasi. 1 buah
9. Penggulung (rol) kawat. 1 buah
10. Kaos tangan. 1 set 

Keselamatan dan Kesehatan Kerja 
1. Gunakan pakaian praktik.
2. Bacalah dan pahami putunjuk praktik pada setiap lembar kegiatan. 
3. Janganlah meletakkan alat dan bahan praktik ditepi meja.
4. Lakukan pengamatan dengan teliti.
5. Hati-hati dalam melakukan praktik. 

Langkah Kerja
1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan.
2. Amatilah tiap-tiap bagian transformator. 
3. Gambarkan tiap-tiap bagian transformator sesuai pengamatan yang telah dilakukan.
4. Hitung besarnya tegangan pada terminal lilitan primer.
5. Hitung jumlah lilitan primer.
6. Hitung besarnya tegangan pada terminal lilitan sekunder.
7. Hitung jumlah lilitan sekuder.
8. Hitung perbandingan lilitannya.
9. Hitung daya transformator dan efesiennya.


Friday, February 25, 2022

Pengelasan Sambungan T Tiga Jalur Posisi 1F Dan 2F Las SMAW/Listrik

Pengelasan Sambungan T Tiga Jalur Posisi 1F
A. Tujuan
Setelah mempelajari dan berlatih dengan tugas ini, peserta diharapkan mampu : 
 Melakukan persiapan pengelasan, meliputi peralatan dan bahan praktik. 
 Menjelaskan prosedur membuat sambungan T tiga jalur bertumpuk posisi di bawah tangan/flat (1F). 
 Membuat sambungan T tiga jalur dengan kriteria : 
- lebar kaki las 10 mm
- kaki las ( reinforcement ) seimbang
- sambungan jalur rata
- undercut maksimum 10 % dari panjang pengelasan
- tidak ada overlap
- perubahan bentuk / distorsi maksimum 5 o

B. Daftar Alat dan Bahan
1. Alat : 
 Seperangkat mesin las busur manual 
 Peralatan bantu
 Peralatan keselamatan& kesehatan kerja

2. Bahan : 
 Pelat baja lunak, ukuran 8 x 70 x 200 mm, 2 buah
 Elektroda jenis rutile ( E 6013 ), 
 2,6 atau 
 3,2 mm

C. Teknik Pengelasan dan Langkah Kerja
1. Menyiapkan 2 buah bahan /pelat baja lunak ukuran 70 x 200 x 8 mm .


2. Membersihkan bahan dan hilangkan sisi-sisi tajamnya denga kikir atau grinda.
3. Merakit sambungan membentuk T ( sudut 90 o )
4. Membuat las catat pada ke dua ujung dan bersihkan hasil las catat menggunakan palu terak dan sikat baja.
5. Memeriksa kembali kesikuan sambungan.
6. Mengatur posisi benda kerja pada posisi 1F.
7. 

8. Malakukan pengelasan sambungan T tiga jalur bertumpuk menggunakan elektroda E 6013 Փ2,6mm atau Փ3,2mm.
9. Memeriksakan hasil pengelasan tiap jalur yang dikerjakan kepada pembimbing/instruktor.
10. Mengulangi job tersebut jika hasil pengelasan belum mencapai kriteria minimum
yang ditentukan.
11. Serahkan benda kerja pada pembimbing untuk diperiksa.

D. Lembaran Kerja



Pengelasan Sambungan T Tiga Jalur Posisi 2F
A. Tujuan Instruksional
Setelah mempelajari dan berlatih dengan tugas ini, peserta diharapkan mampu : 
 Melakukan persiapan pengelasan, meliputi peralatan dan bahan praktik. 
 Menjelaskan prosedur membuat sambungan T tiga jalur bertumpuk posisi mendatar/ horizontal (2F). 
 Membuat sambungan T tiga jalur dengan kriteria : 
- lebar kaki las 10 mm
- kaki las ( reinforcement ) seimbang
- sambungan jalur rata
- undercut maksimum 10 % dari panjang pengelasan
- tidak ada overlap
- perubahan bentuk / distorsi maksimum 5 o. 

B. Daftar Alat dan Bahan
1. Alat : 
 Seperangkat mesin las busur manual 
 Peralatan bantu
 Peralatan keselamatan & kesehatan kerja

2. Bahan : 
 Pelat baja lunak, ukuran 8 x 70 x 200 mm, 2 buah
 Elektroda jenis rutile ( E 6013 ), Փ 2,6 atau Փ 3,2 mm

C. Teknik Pengelasan dan Langkah Kerja
1. Menyiapkan 2 buah bahan /pelat baja lunak ukuran 70 x 200 x 8 mm .


2. Membersihkan bahan dan hilangkan sisi-sisi tajamnya denga kikir atau grinda.
3. Merakit sambungan membentuk T ( sudut 9 o )
4. Membuat las catat pada ke dua ujung dan bersihkan hasil las catat menggunakan palu terak dan sikat baja.


5. Memeriksa kembali kesikuan sambungan.
6. Malakukan pengelasan sambungan T tiga jalur bertumpuk menggunakan elektroda E 6013 Փ2,6mm atau Փ3,2mm.
7. Memeriksakan hasil pengelasan tiap jalur yang dikerjakan kepada pembimbing/ instruktor.
8. Mengulangi job tersebut jika hasil pengelasan belum mencapai kriteria minimum yang ditentukan.
9. Serahkan benda kerja pada pembimbing untuk diperiksa. 

D. Lembaran Kerja